9. Mengusahakan Kelayakan Ruang dalam Misa Online
Bu Magda sedang menerima telepon dari Pak
Barnabas, ketua lingkungannya. Keduanya tampak berbicara amat serius. Setelah
telepon selesai, Bu Magda mulai menanyakan kepada suami dan anak anaknya
tentang siapakah di antara mereka yang akan datang dalam Misa offline di
paroki. Pak
Dulkenyut
suaminya menjawab, “Aku di rumah saja ya..., toh masih ada Misa online, rasanya
lebih enak.” Jawab Bu Magda, “Lho lebih enak bagaimana to, Pak? Kita kan tidak
dapat menyambut Komuni kalau online.” Jawab Pak Dulkenyut, “Yo, enak to,
Bune..., pakaian bebas, bisa diikuti sambil memberi makan ayam, tidak perlu
takut telat.” “Weladalah..., kok gitu? Itu salah kalau Misa kok sambil makani
ayam di kandang, tidak layak!” sanggah Bu Magda.
Salah
satu dari kesekian banyak masalah yang sering muncul dalam Misa online adalah
kelayakan ruang dan sikap manusia saat kita mengikuti Misa tersebut. Pedoman Umum
Misale Romawi Nomor 296 menyatakan bahwa altar merupakan tempat menghadirkan
kurban salib dengan menggunakan tanda-tanda sakramental. Meski tidak sama dengan
gereja atau kapel, selayaknya kita menyiapkan ruang yang layak untuk pelaksanaan
Misa online. Pilihlah tempat di mana kita bisa mengalami saat tenang, khusyuk,
dan tidak terganggu oleh hal-hal tak terduga di tengah-tengah Misa, misalnya seperti
ruang doa keluarga atau ruang keluarga. Jangan
pula ditaruh benda-benda lain supaya kita bisa fokus pada misteri Salib.
Misa online tentu hal yang baik, tetapi memang
tidak pernah dimaksudkan untuk mengganti Misa offline atau Misa di gereja. Jika
dimungkinkan kita hadir di gereja untuk Ekaristi, itulah yang harus kita pilih
yang pertama dan utama. Namun jika terpaksa harus Misa online karena keadaan pandemi
ini, hendaklah kita membuat ruangan dan suasana yang mendukung perjumpaan kita
dengan Tuhan secara batin dalam Misa online tersebut. (Materi hari ke 9, Bulan Katekese
Liturgi 2021, Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang)
Reviewed by burungberkicau
on
May 08, 2021
Rating:


