ALLAH ITU SATU DALAM TIGA, ALLAH ITU TIGA DALAM SATU, TIGA-TIGANYA ADALAH SATU
Banyak
analog atau gambaran untuk menjelaskan Allah Tritunggal, Allah yang satu dalam
tiga pribadi. Ada yang menganalogkan dengan api. Api itu terdiri dari tiga
unsur: nyala, panas, dan terang. Ketiga unsur itu adalah satu tidak
terpisahkan. Tetapi nyala itu bukan panas juga bukan terang, panas itu bukan
nyala juga bukan terang, demikian juga terang itu bukan nyala juga bukan panas.
Ini bisa sedikit membantu menerangkan
Allah Tritunggal tetapi tidak 100% menjelaskanNya.
Ada
juga yang menganalogkan dengan profesi seseorang. Pak Bayero adalah seorang Direktur
sebuah perusahaan swasta. Di kampungnya dia diberi kepercayaan menjabat Ketua
RT dan di Paroki dia menjadi Katekis. Di Kantor pak Bayero adalah seorang
Direktur, tetapi ini tidak meniadakan jabatannya sebagai Ketua RT dan Katekis.
Di rumah tempat tinggalnya dia adalah Ketua RT, tetapi ini juga tidak serta
merta menghapus jabatan sebagai Diektur dan Katekis. Demikian juga di Paroki
sebagai Katekis, dia adalah Katekis yang menjadi Direktur dan Ketua RT. Ini
juga bisa sedikit membantu menerangkan
Allah Tritunggal tetapi tidak 100% menjelaskanNya.
Untuk memahami Allah Tritunggal memang
diperlukan
keterbukaan hati untuk memandang Allah dari sudut pandang yang
mengatasi pola berpikir manusia. Harus kita akui bahwa adanya tiga Pribadi
dalam Allah yang satu ini merupakan misteri yang tidak cukup kita jelaskan dengan
akal, sebab jika dapat dijelaskan dengan tuntas, maka hal itu tidak lagi
menjadi misteri. St. Agustinus bahkan mengatakan, “Kalau engkau bisa memahamiNya, maka Ia bukan lagi Allah”. Sebab
Allah jauh melebihi manusia dalam segala hal, dan meskipun Ia telah mewahyukan
Diri, Ia tetap tinggal sebagai misteri yang tak terucapkan.
Allah
Tritunggal adalah satu Allah, Allah yang Mahaesa. Kita tidak mengakui tiga
Allah, tetapi satu Allah dalam tiga Pribadi. Pribadi-pribadi ilahi tidak
membagi-bagi keAllahan yang satu itu di antara mereka, tetapi masing-masing
dari mereka adalah Allah sepenuhnya dan seluruhnya. Yakni Bapa adalah yang sama
seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa. Bapa dan Putera adalah yang sama
seperti Roh Kudus.
Walaupun
mereka dinamakan tiga Pribadi seturut hubungan mereka, namun mereka
adalah satu hakikat atau substansi atau kodrat. Karena kesatuan ini, maka Bapa
seluruhnya ada dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya
ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh Kudus seluruhnya ada dalam
Bapa, seluruhnya ada dalam Putera.
Hal
ini mengingatkan kita akan pernyataan Allah Bapa sendiri,
tentang keAllahan Yesus sebab Allah Bapa menyebut Yesus sebagai AnakNya yang
terkasih, yaitu pada waktu pembaptisan Yesus. Terdengarlah suara dari langit:
“Engkaulah anakKu yang Kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan” (bdk. Luk 3: 22).
Juga pada waktu Yesus dimuliakan di atas gunung Tabor. Dan dari dalam awan itu terdengar
suara yang berkata: “Inilah anakKu yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan” (bdk.
Mat 17:5).
Yesus
juga menyatakan keberadaan DiriNya yang telah ada
bersama-sama dengan Allah Bapa sebelum penciptaan dunia (bdk. Yoh 17:5).
Kristus adalah sang Firman, yang ada bersama-sama dengan Allah dan Firman itu
adalah Allah, dan olehNya segala sesuatu dijadikan (bdk. Yoh 1:1-3). Tidak
mungkin Yesus menjadikan segala sesuatu, jika Ia bukan Allah sendiri.
Yesus
menunjukkan persatuan yang tak terpisahkan dengan Allah Bapa, Aku dan Bapa
adalah satu (bdk. Yoh 10:30). Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat
Bapa… (bdk. Yoh 14:9). Di dalam doaNya yang terakhir untuk murid-muridNya
sebelum sengsaraNya, Dia berdoa kepada Bapa, agar semua muridNya menjadi satu,
sama seperti Bapa di dalam Dia dan Dia di dalam Bapa (bdk. Yoh 17: 21). Dengan
demikian Yesus menyatakan DiriNya sama dengan Allah: Ia adalah Allah.
Selain
menyatakan kesatuanNya dengan Allah Bapa, Yesus juga menyatakan kesatuanNya
dengan Roh Kudus, yaitu Roh yang dijanjikanNya kepada para muridNya dan
disebutNya sebagai Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, (bdk. Yoh 15:26). Roh
ini juga adalah Roh Yesus sendiri, sebab Ia adalah Kebenaran (bdk. Yoh 14:6).
Kesatuan ini ditegaskan kembali oleh Yesus dalam pesan terakhirNya sebelum naik
ke surga, “…Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka
dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus…”(bdk. Mat 28:18-20).
Tujuan
akhir seluruh kegiatan ilahi ialah penerimaan makhluk ciptaan ke dalam
persatuan sempurna dengan Tritunggal yang bahagia.
Tetapi sejak sekarang ini kita sudah dipanggil untuk menjadi tempat tinggal
Tritunggal Mahakudus. Tuhan mengatakan: Jika seorang mengasihi Aku, ia akan
menuruti firmanKu dan BapaKu akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya
dan diam bersama-sama dengan dia (bdk. Yoh 14:23). (hjh, dari berbagai
sumber)
Reviewed by burungberkicau
on
June 06, 2020
Rating:


