SEPULUH PERINTAH ALLAH (kesembilan). “Berpikir saja kok berdosa, memangnya ada yang dirugikan?”

Perintah yang kesembilan berbunyi “Jangan mengingini istri sesamamu” (bdk. Ul 5:21). Perintah ini hampir sama dengan yang keenam “Jangan berzinah”, materinya sama yaini tentang hawa nafsu seksual. Hawa nafsu ini diartikan sebagai suatu keinginan yang tidak teratur atau kenikmatan berlebihan atas kepuasan seksual.  Hal ini dipandang berdosa apabila diinginkan atau dipikirkan penuh nafsu dan secara sengaja dengan pengetahuan dan persetujuan penuh dari kehendak.

Sering ada pertanyaan apa bedanya antara perintah yang keenam dan kesembilan. Jelas berbeda, yang keenam sudah sampai pada eksekusi (tindakan yang bisa ditangkap indra), sedangkan yang kesembilan hanya dalam ranah rasio (keinginan atau rencana dalam pikiran).

Misalnya, kisah antara Daud dan Batsyeba (bdk. 2Sam 11:2-25). Kisah ini memperlihatkan keinginan tidak teratur Daud ketika melihat Batsyeba sedang mandi (ranah rasio – perintah kesembilan) yang menyebabkan dosa perzinaan karena Daud tidur dan bersetubuh (terbukti hamil) dengan Batsyeba (eksekusi – perintah keenam) dan berkembang pada dosa yang lainnya yaini pembunuhan (perintah kelima).

Kemurnian atau kesucian pikiran mendapat perhatian Tuhan Yesus seperti halnya perbuatan. Seperti yang dinyatakanNya dalam Injil Matius 5:28: Tetapi Aku berkata kepadamu, “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.”  Dalam konteks ini, walaupun hanya dalam pikiran, dosanya sama dengan perzinahan, mungkin bobot dosanya yang berbeda.

Mengapa kemurnian atau kesucian pikiran perlu dijaga, padahal tidak ada orang yang tahu, atau tidak ada orang yang dirugikan? Menurut KBBI, murni berarti tidak bercampur dengan unsur lain (tulen), belum mendapat pengaruh luar (lugu, polos), atau tulus, suci (tentang cinta).

Pertama, dari pikiran akan muncul berbagai tindakan, termasuk tindakan yang tidak baik (bdk. Mrk 7:21-22). Misalnya, saksi dusta (perintah kedepalan), pencurian (perintah ketujuh), perzinahan (perintah keenam), pembunuhan (perintah kelima).

Kedua, dengan pikiran yang murni seseorang dapat mencintai dengan hati tulus dan tak terbagi. Dalam hal berhubungan dengan pasangan, kemurnian pikiran dinyatakan dengan saling memberi dan membahagiakan pasangan menjadi satu-satunya tujuan atau  kepentingan (mutlak). Pandangan yang murni mendisiplinkan perasaan dan imajinasi dengan menolak memikirkan hal-hal yang cemar atau tidak senonoh sehingga tidak berzinah dalam pikiran dengan orang lain ataupun dengan pasangannya (Paus Yohanes Paulus II).

Ketiga, dengan pikiran yang murni seseorang akan melihat Allah. Sabda bahagia yang keenam menyatakan, "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah"  (bdk. Mat 5:8). Kemurnian pikiran merupakan syarat untuk memandang Allah (tidak ada yang menghalangi) serta memungkinkan seseorang  menyelaraskan pikiran dan kehendaknya dengan tuntutan kekudusan Allah. Dengan demikian dapat melihat situasi dan orang lain sebagaimana Allah melihatnya (selaras). Tubuh sesama (dan kita sendiri) kita pandang sebagai bait Roh Kudus dan merupakan perwujudan keindahan ilahi. 

Bagaimanakah caranya?

Pertama, dengan cara hidup sederhana dan pengendalian diri. Kesederhanaan memandu seseorang bagaimana seharusnya memandang orang lain dan berperilaku terhadap mereka sesuai dengan martabatnya sebagai pribadi manusia. Kesederhanaan mencakup kehati-hatian dan menghindari rasa penasaran yang tidak sehat atau berbahaya.

Kesederhanaan dapat melindungi pusat pribadi seseorang yang paling dalam, karena menolak untuk menyingkap apa seharusnya tetap tersembunyi. Kesederhanaan mencakup kepatutan atau kesopanan, mengilhami seseorang bagaimana seharusnya berpakaian.

Kedua, dengan membangun kemurnian lingkungan sosial. Gereja mengajarkan bahwa kemurnian Kristiani mensyaratkan suatu pemurnian lingkungan sosial. Media sosial perlu menunjukkan rasa hormat dan menahan diri dalam penyajian yang disuguhkan, yang seharusnya bebas dari erotisme serta tayangan yang mengarah pada kenikmatan dan khayalan. Pendidikan dalam hukum moral diperlukan untuk pengembangan kebebasan yang sejati supaya hidup moral tidak bersandar pada pemahaman yang keliru terkait kebebasan manusia.

Ketiga, dengan bantuan rahmat Allah. Dibutuhkan doa penyerahan kepada Allah yang memohon bantuan untuk mengatasi godaan dan menyerahkan segala kekhawatiran kepadaNya. Dengan lebih tegas St. Thomas Aquinas mengatakan bahwa setiap perbuatan yang dilakukan dengan hawa nafsu termasuk dalam dosa berat, termasuk ciuman atau sentuhan yang dilakukan dengan penuh gairah dan nafsu. Karena kadar dosa yang berat, mutlak dibutuhkan penyesalan dan rahmat dari sakramen Pengampunan sebagai langkah awal kesembuhan dan dibebaskan dari keterikatan pada hawa nafsu.

Demikianlah, perintah yang kesembilan ini memang tidak merugikan orang lain, tetapi merugikan diri kita sendiri, merugikan hakikat pribadi kita sebagai citra Allah. Allah berduka karena Dia telah menciptakan kita dengan sungguh amat baik. (hobertusjodi, gambar: pinterest, materi: iman dan moral katolik)


SEPULUH PERINTAH ALLAH (kesembilan). “Berpikir saja kok berdosa, memangnya ada yang dirugikan?” SEPULUH PERINTAH ALLAH (kesembilan). “Berpikir saja kok berdosa, memangnya ada yang dirugikan?” Reviewed by burungberkicau on July 06, 2020 Rating: 5
Post view: