SEPULUH PERINTAH ALLAH (kesepuluh). “Lagi-lagi, pikiran bisa bikin masalah!”

Perintah yang kesepuluh berbunyi: “Jangan mengingini milik sesamamu secara tidak adil” (bdk. Ul 5:21). Hampir sama dengan perintah yang kesembilan, sama-sama terjadi dalam ranah rasio (jangan mengingini), hanya materi dosanya yang berbeda. Yang kesembilan tentang hawa nafsu, sedangkan yang kesepuluh tentang harta benda.

Hampir sama juga dengan perintah yang ketujuh (jangan mencuri).  Materi dosanya sama, yaini tentang harta benda, milik sesama. Perbedaannya, yang ketujuh sudah sampai pada eksekusi (tindakan yang bisa ditangkap indra), sedangkan yang kesepuluh hanya dalam ranah rasio (keinginan atau rencana dalam pikiran).

Perlu diketahui bahwa - dalam hal ini - ada perbedaan antara Kitab Keluaran dan Ulangan. Dalam kitab Keluaran (20:17), istri sesama disebut setelah rumah, menjadi bagian atau isi dari rumahnya, sehingga dikategorikan sebagai harta banda. Sedangkan dalam Kitab Ulangan (5:21), istri sesama disebut lebih dulu sebelum rumahnya, istri sesama adalah pribadi yang adalah sesama. Ada perbedaan dalam menilai istri, sebagai harta benda (barang) dan sebagai pribadi (sesama). Apakah ada yang salah? Tidak!  Tidak ada yang salah dalam Kitab Keluaran tetapi ada perkembangan penilaian dalam menghargai seorang istri.

Tujuan dari perintah “Jangan mengingini milik sesamamu secara tidak adil” adalah kelepasan hati atau ketidakterikatan pada harta benda. Tuhan Yesus bersedih hati atas orang-orang kaya, karena mereka terikat dan menemukan penghiburan dalam kelimpahan barang-barang (bdk. Mat 19:16-26), Tuhan menjadi nomor dua. Seperti juga dalam sabda bahagia: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah" (bdk. Mat 5:3). Mereka yang tidak memiliki atau tidak bisa menerima berbagai kebutuhan fisik, cenderung lebih mencari pemenuhan kebutuhan melalui Tuhan, bergantung pada Tuhan.

Tuhan Yesus menekankan bahwa ketidakterikatan pada harta benda menjadi syarat wajib untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga. Yesus mendorong para muridNya untuk lebih memilih Dia daripada semua hal dan semua orang, serta meminta mereka agar melepaskan dirinya dari segala miliknya demi Dia dan Injil. Yesus mencontohkan seorang janda miskin yang memberikan semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya (bdk. Mrk 12:41-44).

Akar permasalahan mengapa seseorang mengingini milik sesama secara tidak adil.

Pertama, iri hati. Iri hati adalah sikap tidak senang terhadap apa yang dimiliki orang lain dan menginginkan untuk memilikinya serta mengharapkan orang lain yang memiliki kehilangannya. Orang itu akan merasa sedih saat melihat kemakmuran orang lain. Iri hati termasuk salah satu dosa pokok yang berupa kekecewaan ketika melihat milik orang lain dan menghendaki untuk memilikinya untuk kepentingan pribadi.

Kedua, keserakahan. Serakah adalah keinginan seseorang yang terlalu banyak sehingga ia menginginkan apa yang sebenarnya tidak dibutuhkan, jauh melebihi kebutuhan untuk hidup yang berlaku pada umumnya. Pengertian ini diterapkan pada keinginan yang besar dan mencolok dalam upaya mengejar kekayaan, status sosial, dan kekuasaan.

Santo Thomas Aquinas mendefinisikan keserakahan sebagai "cinta yang tidak wajar dalam kepemilikan", karena keinginan untuk memiliki atau mempertahankan barang-barang duniawi yang menyimpang dari ukuran wajar akan kegunaan barang-barang tersebut untuk kelangsungan hidupnya. Ini merupakan dosa berat jika menyebabkan seseorang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan keadilan, mengambil hak orang lain dengan tidak adil, misalnya pencurian.

Cara mengatasi iri hati dan keserakahan.

Pertama, membangun sikap rendah hati. Rendah hati berasal dari bahasa latin humilitas, yang bisa diartikan "membumi" (humus = bumi) yaitu orang yang berpijak pada yang semestinya (jawa: ora ngawang-awang). Dapat pula diterjemahkan sebagai "santun", yaitu orang yang tahu diri dan bisa menempatkan dirinya (jawa: empan-papan). Jadi orang yang rendah hati adalah orang yang bisa menyadari kemampuan dan keterbatasan diri, sehingga seseorang tidak menjadi angkuh dan sombong.

Kedua, bersyukur. Bersyukur adalah kemampuan untuk menyadari dan mengakui bahwa apa yang dimilikinya adalah berasal dari Tuhan. Kemampuan ini menjadikan orang bisa berterima kasih dan merasa cukup.  Berterima kasih dengan cara menghargai dengan sebaik-baiknya yang diterimanya, sehingga tidak iri hati. Merasa cukup dengan manfaat yang dimilikinya, sehingga tidak serakah. Kemampuan bersyukur ini bisa juga membuahkan sikap murah hati.

Ketiga, mengembangkan sikap murah hati. Santo Thomas Aquinas menuliskan bahwa suatu keinginan jahat hanya dapat diatasi dengan suatu keinginan baik yang lebih kuat.  Maka keserakahan bisa dilawan dengan kemurahan hati, yaini sikap suka memberi dan mudah menolong karena kasih kepada sesama, bukan karena kepentingan pribadi.

Demikianlah, orang memiliki keinginan yang tidak teratur akan harta sesamanya karena keterikatannya pada harta benda. Keterikatan ini bisa mengakibatkan iri hati dan serakah namun bisa diatasi dengan kerendahan hati, kemauan bersyukur dan kemurahan hati. (hobertusjodi, gambar: pinterest, materi: iman dan moral katolik)


SEPULUH PERINTAH ALLAH (kesepuluh). “Lagi-lagi, pikiran bisa bikin masalah!” SEPULUH PERINTAH ALLAH (kesepuluh). “Lagi-lagi, pikiran bisa bikin masalah!” Reviewed by burungberkicau on July 09, 2020 Rating: 5
Post view: