PESTA SANTO THOMAS RASUL. “Salahkah Thomas minta bukti untuk percaya (Yoh 20:24-29)?”

Tanggal 03 Juli, Gereja di seluruh dunia merayakan Pesta Santo Thomas Rasul. Santo Thomas biasa disebut Didimus karena dia memiliki saudara kembar, jadi sering disebut Thomas si kembar. Sayangnya siapa saudara kembar Thomas tidak diketahui sampai sekarang. Mungkin ada di antara kita adalah saudara kembarnya Thomas, paling tidak yang Santo pelindungnya Thomas Rasul?

Kebanyakan orang menilai bahwa sikap Thomas itu salah, karena menuntut bukti untuk percaya, ada bukti baru ada iman. Sering orang memisahkan antara hidup sehari-hari dengan hidup beriman, hidup sehari-hari berbanding terbalik dengan hidup beriman. Dalam berelasi dengan sesama, kita bisa percaya kalau sudah ada buktinya tetapi kalau berelasi dengan Tuhan harus dibalik, percaya dulu baru ada buktinya. Dalam beriman: percaya dulu baru terbukti, kita nilai benar; dengan begitu kalau menuntut bukti dulu baru percaya, maka kita nilai salah. Inilah yang menyebabkan kita menilai salah tentang sikap Thomas. Murid yang lainnya tidak menuntut bukti, kita nilai benar; Thomas menuntut bukti, maka kita nilai salah. Jarang orang berpikir yang satu benar, yang lainnya juga bisa benar, tidak selalu salah.

Apakah Tuhan Yesus menyalahkan Thomas karena menuntut bukti?

Pertama, kalau memang Thomas salah, mengapa Tuhan Yesus menuruti apa yang menjadi keinginan Thomas, datang dan menunjukkkan lukaNya. Berarti Tuhan Yesus menuruti orang yang salah? Kalau begitu Tuhan Yesus ikut salah? Tuhan kok salah? Kan tidak mungkin.

Kedua, memang Tuhan Yesus menyalahkan Thomas, tetapi bukan karena Thomas menuntut bukti, karena ketidakpercayaannya. Ayat 27 kita perhatikan, “... dan jangan engkau tidak percaya, melainkan percayalah”. Tuhan Yesus tidak mengatakan, ... dan jangan engkau menuntut bukti, melainkan percayalah. Yang dilarang Tuhan Yesus adalah “tidak percayanya Thomas,” jangan engkau tidak percaya.

Ketiga, perikop ini ditutup dengan perkataan Tuhan Yesus “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Ini tidak bisa diartikan bahwa, yang berbahagia hanya mereka yang tidak melihat kemudian percaya. Dan mereka yang melihat dan percaya adalah tidak berbahagia. Kalau boleh, mungkin baik saya tambahkan ayat ini: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya dan berbahagialah juga yang melihat dan percaya.” Jadi baik yang melihat ataupun yang tidak melihat dan kemudian percaya “berbahagialah”. Jadi Tuhan Yesus tidak membedakan antara yang melihat kemudian percaya atau yang tidak melihat kemudian percaya, yang penting orang itu percaya dan itulah yang berbahagia. Thomas percaya, jadi termasuk dalam bilangan yang "berbahagialah."

Pertanyaannya: Mengapa Thomas ingin bukti baru akan percaya? Atau mengapa kita sering menuntut bukti baru bisa percaya?

Pertama, bukti dibutuhkan karena orang tidak mengenal. Misalnya, dalam hal penerimaan karyawan baru. Calon karyawan mengungkapkan dirinya tidak cukup hanya dengan bercerita atau menuliskannya dalam riwayat hidup saja. Perlu lampiran-lampiran sebagai bukti yang berupa copy ijasah, sertifikat atau penghargaan. Ini bisa dimengerti karena memang HRD tidak mengenal calon karyawan tersebut. Kalau relasi kita dengan Tuhan Yesus dan kita masih minta bukti untuk percaya, apakah kita tidak mengenal siapa Tuhan Yesus? Atau kita salah mengenalNya? Waspadalah kalau kita sering meminta bukti untuk mempercayaiNya, itu pertanda bahwa kita tidak mengenalNya atau salah mengenalNya.

Kedua, bukti dibutuhkan karena kita sudah terbiasa hidup dalam masyarakat atau iklim kebohongan, jadi supaya tidak dibohongi harus menunjukkan bukti. Misalnya dalam dunia media sosial, banyak cerita bohong beredar. Maka ada slogan “tidak ada gambar berarti hoax atau bohong.” Bahkan ada gambarnya pun tetap saja hoax, gambar diambil dari peristiwa yang sudah lampau atau peristiwa di tempat lain yang mirip. Situasi inilah yang sering memaksa kita untuk menuntut bukti, karena iklim kebohongan. Kalau dalam hal kepercayaan kita kepada Tuhan Yesus dan kita menuntut bukti, apakah kita menuduh Tuhan berbohong? Berhati-hatilah, kalau kita sering menuntut bukti untuk mempercayaiNya, mungkin secara tidak sadar kita menuduh Tuhan suka berbohong. Tuhan kok suka bohong, ini fitnah!

Ketiga, dalam lubuk hati terdalam, kita sebenarnya sudah percaya 100% tanpa syarat apapun. Tetapi kepercayaan itu sering tertutupi oleh kemanusiaan kita, keterbatasan kita, dan kesombongan kita, maka yang sering muncul adalah penutup yang menghalangi yang sesungguhnya. Maka ada ungkapan “pertumbuhan rohani itu mengurangi, tidak menambah.” Mengurangi penutup yang menghalangi, hidup rohaninya tidak perlu ditambah, sudah lebih dari cukup karena kita diciptakan secitra dengan Allah. Kalau ditambah, memangnya mau melebihi Allah? Kalau penutupnya semakin dikurangi, maka semakin luaslah tempat bagi Tuhan untuk kita rasakan kehadiranNya dan kita alami karyaNya dalam diri kita.

Misalnya, pengalaman Thomas. Dalam lubuk hatinya yang terdalam dia sudah percaya akan Tuhan Yesus. Namun kepercayaan itu tertutupi oleh dendam masa lalunya sebagai orang yang miskin yang harus dengan sangat hati-hati dalam memutuskan sesuatu. Atau masa lalunya yang sering dipermainkan orang, sehingga tidak mudah untuk percaya. Dendam inilah yang menjadi penutup dan harus dikurangi atau dihilangkan atau dimaafkan. Sehingga munculah kepercayaan yang tidak harus menuntut bukti. Jadi akar permasalahan Thomas tidak pada menuntut buktinya, tetapi dendam pada masa lalunya, harus diampuni.

Demikianlah, yang salah dalam diri Thomas adalah rasa dendam tentang masa lalunya. Ini yang harus diatasi supaya ‘menjadi pribadi yang sudah selesai dengan dirinya.’ Jadi Thomas tidak salah dalam menuntut bukti untuk percaya. Tetapi harus diketahui bahwa bukti bukan satu-satunya jalan untuk percaya, kalau tidak ada bukti (yang bisa ditangkap indra) kemudian tidak bisa percaya, ini salah!

Dalam kisah ini, tidak diceritakan, “...kemudian Thomas mencucukkan jari dan tangannya”. Secara spontan dan penuh penyesalan Thomas menjawab: “Ya Tuhanku dan Allahku.” Bukti menjadi tidak penting lagi karena perjumpaannya dengan Tuhan Yesus. Jadi walaupun Thomas tidak melakukan yang dituntut (mencucukkan jari dan tangannya), dia tetap percaya bahwa Dia adalah Tuhan dan Allah.

Sebenarnya, iman itu sendiri adalah bukti. Kita lihat kitab Ibrani 11:1, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” ‘Bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat’ mengandung arti ada tetapi tidak kita lihat, terjadi tetapi tidak kita lihat, kita terima tetapi tidak kita lihat. Jadi bukti itu sudah ada walaupun indra kita tidak bisa menangkapnya. Iman itu bukti, jadi tidak membutuhkan bukti lagi. Bukti itu sudah ada dalam iman itu.

Semoga menjadikan kita semakin beriman (hobertusjodi, gambar: pinterest, materi; kitab suci)


PESTA SANTO THOMAS RASUL. “Salahkah Thomas minta bukti untuk percaya (Yoh 20:24-29)?” PESTA SANTO THOMAS RASUL. “Salahkah Thomas minta bukti untuk percaya (Yoh 20:24-29)?” Reviewed by burungberkicau on July 03, 2020 Rating: 5
Post view: