SEPULUH PERINTAH ALLAH (kedua). “Arti sebuah nama"


Sepuluh Perintah Allah yang kedua berbunyi: “Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat”. Ini berakar dari kitab Kel. 20:7 dan Ul. 5:11. Perintah ini berhubungan erat dengan perintah yang pertama: “Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepadaKu saja dan cintailah Aku lebih dari segala sesuatu” (bdk. Ul. 5:6-10). Menyembah berhala dapat diartikan menempatkan Allah pada tempat yang tidak semestinya (Allah sebagai berhala). Demikian juga menyebut nama Allah dengan tidak  hormat berarti Allah tidak ditempatkan pada tempat yang semestinya.  

Perintah kedua ini menunjuk pada pribadi Allah itu sendiri. Konsep orang Yahudi, nama  adalah sama dengan pribadi itu sendiri. Kalau ada orang menjelekkan nama berarti menjelekkan pribadinya. Perintah ini tidak berarti bahwa semata-mata tidak boleh menyebut nama Allah, menyebut boleh tetapi harus dengan hormat. Yang tidak boleh kalau menyebut nama Allah dengan tidak hormat (sembarangan). Ini untuk menjaga dan menghormati kekudusan nama Allah itu sendiri.

Menghormati nama Allah yang kudus merupakan hal yang sangat penting karena Allah sendiri yang memerintahkan (bdk. Kel. 3:2-5). Menyebut nama Allah di sini tidak hanya sebatas menyebut nama Allah secara verbal tetapi juga ketika bersikap atau bertindak atas nama Allah.

Menyebut nama Allah tidak dengan hormat bisa terjadi dalam hidup kita sehari-hari.

1.    Berkaitan dengan penyembahan berhala (berhubungan dengan perintah pertama).

Penyembahan berhala berkaitan dengan menyebut nama Allah secara sembarangan. Inti penyembahan berhala adalah yang bukan Allah dijadikan Allah. Sedangkan menyebut nama Allah secara sembarangan adalah Allah dijadikan bukan Allah. Keduanya menempatkan Allah bukan pada tempatNya di dalam relasi antara ciptaan dengan sang pencipta. Menyebut nama Allah secara sembarangan bisa juga berarti menyalahgunakan nama Allah, misalnya: mengelabuhi umat demi nama Allah, merampok untuk kepentingan Allah, membunuh atas nama Allah, dll.

2.    Berkaitan dengan sumpah palsu.

Bersumpah palsu adalah mengungkapkan sesuatu yang tidak sungguh, tindakan penipuan atau tindakan yang merugikan orang lain, atau mengungkapkan perihal yang tidak nyata perihal dirinya (munafik). Maka jika bersumpah palsu sambil membawa nama Allah berarti menyebut nama Allah dengan tidak hormat.

3.    Berkatian dengan penghormatan kepada Allah.

Kepribadian Allah terungkap jelas dari namaNya dan itu berhubungan dengan segala perbuatan yang menunjukkan siapa diri Allah. Jika menyebut nama Allah dengan sembarangan berarti manusia sama sekali tidak mengenal Allah, tidak menghormati Allah yang menyatakan namaNya, menyatakan karakterNya.

Perintah kedua ini mengharapkan:

  1. Manusia memiliki hormat pada Allah, mengakui bahwa Allah adalah kudus.

Kekudusan adalah hakekat Allah, bukan sifat Allah. Jadi Allah adalah kudus, bukan Allah yang kudus. Allah adalah kudus berarti kalau tidak kudus adalah tidak Allah, maka Allah adalah satu-satunya. Kalau Allah yang kudus berarti masih bisa ada Allah yang tidak kudus.

  1. Allah tidak mau manusia membawa nama Allah untuk tujuan kejahatan.
  2. Manusia harus hidup dengan hati-hati, dengan tulus, jangan menyepelekkan Allah.

Menyebut nama Allah dengan tidak hormat atau sembarangan, tidak hanya terbatas pada perkataan tetapi juga sikap, perbuatan dan ketulusan hati. Jadi tidak sekedar tindakan yang bisa dilihat atau didengar orang lain tetapi bisa juga berupa sikap hati kita yang tidak bisa diketahui orang lain.  Kita bersalah kalau kita sudah menyembah Allah yang benar, sudah dengan cara yang benar, tetapi tanpa hati yang tulus. (hobertusjodi, gambar: pinterest, materi: iman katolik)


SEPULUH PERINTAH ALLAH (kedua). “Arti sebuah nama" SEPULUH  PERINTAH  ALLAH (kedua). “Arti sebuah nama" Reviewed by burungberkicau on July 14, 2016 Rating: 5
Post view: