SEPULUH PERINTAH ALLAH (pertama). “Bahkan, Tuhanpun bisa menjadi berhala?”

Sepuluh Perintah Allah yang pertama berbunyi: “Akulah Tuhan, Allahmu: Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepadaKu saja, dan cintailah Aku lebih dari segala sesuatu”. Ini berakar dari kitab Kel. 20:2-6 dan Ul. 5:7-10. Perintah ini menunjukkan:
a. antara Allah yang sejati dan palsu,
b. antara pencipta dan ciptaan.
Allah
yang sejati adalah yang membawa keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan
(bdk. Ul. 5:6). Yang palsu adalah berhala. Berhala tidak sekedar berarti patung
buatan tangan manusia tetapi lebih sebagai cara berpikir, cara menafsir dan
cara bersikap terhadap sesuatu. Kita
akan membahas tentang apakah, siapakah atau bagaimanakah berhala itu.
1. Sarana menjadi tujuan.
Penyembahan berhala dilakukan dalam bentuk
sikap memberlakukan sarana sebagai tujuan. Tujuan hidup manusia adalah
memuliakan Tuhan atau bersatu dengan Tuhan. Dalam ibadat diperlukan liturgi dan
sarana lainnya untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam hidup sehari-hari
dibutuhkan harta dan fasilitas lainnya untuk mencapai tujuan tersebut. Tanpa
disadari sarana tersebut berubah posisi dan fungsi menjadi yang paling utama, menjadi
tuhan itu sendiri, tidak sekedar menjadi sarana atau alat untuk mempermudah
tetapi menjadi pusat ibadah atau pusat hidup.
Misalnya, terlalu mementingkan upacara
atau liturgi dalam ibadat malah melupakan tujuan ibadatnya, atau tidak memahami
makna dari alat atau lambang dalam ibadat sehingga fungsinya sebagai sarana
hilang dan menjadi tujuan. Atau dalam hidup sehari-hari, terlalu memperjuangkan
harta sampai melupakan Tuhan, padahal harta sekedar sarana untuk melayani
Tuhan.
2. MenTuhankan berhala.
Penyembahan berhala dilakukan ketika
manusia menukar pribadi dengan benda atau materi. Manusia menyembah benda bukan
pribadi, beribadat kepada benda mati, bukan kepada Allah yang hidup.
Misalnya, patung Tuhan Yesus disembah
dan dipuja seolah-olah patung itu memiliki kuasa dan kekuatan, padahal patung
itu hanya lambang akan keberadaan dan kehadiran Tuhan. Yang harus disembah
adalah pribadi yang dilambangkan dengan patung itu. Dalam berkeluarga, perabot
rumah adalah sarana untuk berelasi antar anggota keluarga dan untuk membangun
kebahagiaan, sering perabot lebih diutamakan dan mengorbankan relasi dan
kebahagiaan itu sendiri.
3. Memberhalakan Tuhan.
Penyembahan berhala dilakukan ketika
manusia menyembah Tuhan bukan karena semata-mata Ia adalah Tuhan. Manusia
mempunyai tujuan untuk menguasai atau menaklukkan Tuhan, supaya Tuhan mau
melayani kebutuhan dan kepentingan manusia.
Misalnya, salah satu tujuan berdoa
adalah bersyukur dan menyembah Tuhan, namun yang dilakukan hanya sededar
formalitas, yang terutama kita mengatur Tuhan untuk mengabulkan sederet
keinginan dan kebutuhan. Atau berbuat kesalehan dengan tujuan supaya Tuhanpun
membalas kebaikan itu dengan berkat yang berlipat ganda.
Begitu
dekatnya berhala dengan hidup kita sehari-hari, bahkan ada dalam pikiran kita, dalam
perkataan, dalam bersikap dan bertindak. Maka harus selalu disertai dengan kesadaran,
hati dan melibatkan Roh Kudus. Jangan
sekedar: “Biasanya begitu”. (hobertusjodi,
gambar: pinterest, materi: iman katolik)
Reviewed by burungberkicau
on
July 14, 2016
Rating:

