SEPULUH PERINTAH ALLAH (ketiga). “Lebih penting berdoa atau bekerja?”

Sepuluh
Perintah Allah yang ketiga berbunya: “Kuduskanlah hari Tuhan”. Ini berakar
dari kitab Kel. 20:8-11 dan Ul. 5:12-15. Perintah ini berhubungan dengan perintah yang
kedua. Untuk menghormati nama Allah dengan semestinya (dengan hormat dan tidak
sembarangan) dibutuhkan waktu khusus, yakni hari Tuhan. Hari Tuhan adalah satu
dari tujuh hari yang disitimewakan, dibaktikan untuk Tuhan, khususnya dengan
kewajiban beribadat (misalnya, Minggu, Rabu, Jumat atau hari lain).
Menurut tradisi Yahudi hari Tuhan adalah hari Sabat yang
artinya adalah hari istirahat. Istirahat tidak terlepas dari bekerja, orang
beristirahat karena orang itu bekerja. Tidak mungkin orang yang tidak bekerja
meluangkan waktu untuk beristirahat, beristirahat dari istirahat. Jadi firman ini tidak semata-mata berbicara
tentang istirahat tetapi juga tentang bekerja (bdk. Ul. 5:12-15). Tuhan
memerintahkan manusia bekerja untuk memelihara ciptaan Tuhan (bdk. Kej. 2:15).
Juga untuk perjuangan hidup yang harus ditanggungnya akibat terpisah dengan
Allah (dosa) dan sebagai sarana penebusan (bdk. Kej. 3:17-19). Maka perintah
ketiga ini sebenarnya berbicara tentang:
a. kewajiban
bekerja,
b. kewajiban
beristirahat dan
c. perlindungan
bagi mereka yang bekerja dalam ketergantungan.
Hari
Sabat berbeda dengan hari Minggu dan hari Minggu tidak menggantikan hari Sabat.
Hari Sabat adalah hari ketujuh yaini hari saat Allah bersitirahat dari
pekerjaan menciptakan dunia. Sedangkan hari Minggu adalah hari pertama untuk
merayakan kebangkitan Kristus dan dirayakan sebagai hari Tuhan. Pada hari ini seharusnya kita tidak
hanya berkumpul dan berdoa bersama untuk saling meneguhkan iman, tetapi juga
memelihara setiap sikap dan kesadaran, menangguhkan urusan-urusan kita agar
jangan sampai mengalahkan perjumpaan kita dengan Tuhan.
Bagi umat Katolik, ajaran Yesus
bahwa hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat
berarti bahwa perbuatan-perbuatan baik pada saat kebutuhan orang lain
menuntutnya dapat menjadi bagian dari hari istirahat. Pada hari-hari tersebut,
umat Katolik mungkin tidak bekerja atau melakukan aktivitas yang menghalangi
ibadat yang ditujukan kepada Allah, tetapi karya-karya belas kasih dan
relaksasi yang pantas dalam semangat suka cita diijinkan.
Pada perkembangan selanjutnya para
pemimpin Gereja mencantumkan istirahat hari Minggu ke dalam ajaran resmi
Gereja. Pemerintahpun memberlakukan istirahat pada hari Minggu.
Mari
kita rayakan hari Minggu sebagai hari Tuhan, saat untuk beristirahat di hadapan
Tuhan supaya kita mendapat kekuatan dan kesegaran baru. Jangan sampai kerja
menjadi lebih penting daripada hidup, dan hasil kerja dinilai lebih tinggi
daripada manusia. (hobertusjodi,
gambar: pinterest, materi: iman katolik)
Reviewed by burungberkicau
on
July 14, 2016
Rating:

