AKU PERCAYA “akan ... ... ... . Amin!”
Amin adalah doa
yang paling singkat dan penuh dengan makna, mengandung apapun, siapapun,
kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun tentang isi dari doa itu sendiri. Tidak
hanya doa, seluruh Kitab Suci terkandung dalam Amin, bahkan pribadi Tuhan Yesus sendiri adalah Amin (bdk. Why 3:14).
Arti kata Amin
Kata Amin
(Indonesia) diserap dari bahasa Arab (serumpun dengan bhs. Ibrani), artinya: terimalah, kabulkanlah, demikianlah,
hendaknya. Dalam bahasa Ibrani, menggunakan kata dan arti yang sama yaitu: pasti, sungguh, benar, jadilah demikian.
Kata Ibrani Amin berasal dari kata
kerja aman, yang artinya percaya, mempercayai. Dari akar kata inilah terbentuk
kata iman, yang berarti mempercayai sesuatu dan aman pada sesuatu (secara
etimologi).
Dalam Perjanjian Baru, kata Amin lebih memiliki konotasi kebenaran dan kesetiaan, dan sering juga
diterjemahkan dengan kata sesungguhnya
(bdk. Yoh 16:23). Dan itu menegaskan atau mengkonfirmasi sesuatu yang hendak
dikatakan (bdk. Yoh 8:58, Mat 11:11, Yoh 3:3, Luk 23:43).
Sebagaimana yang kita alami dalam praktik
iman, kata Amin juga digunakan
sebagai penutup doa (bdk. 1Kor 14:16), ini berarti menyetujui atau mengesahkan isi
dari doa yang diucapkannya. Bahkan para malaikat di surga pun mengucapkan kata Amin sebagai tanda persetujuan atas doa
atau pernyataan iman yang khidmat yang kita panjatkan kepada Allah (bdk. Why
7:10-12).
Makna kata Amin
Kata Amin
menggambarkan iman kita kepada Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus dan kepada
Gereja. Ada tiga makna yang bisa kita hidupi dari kata Amin, doa yang paling singkat ini. Pertama, mengucapkan kata Amin
dalam doa menegaskan bahwa kita mempercayai Allah, yang lebih dulu
mengasihi kita. Maka dengan mengucapkan Amin,
kita memperlihatkan kesetiaan,
keteguhan, dan ketergantungan kita kepada kasih Allah tersebut.
Kedua,
mengucapkan kata Amin berarti
mengakui Allah sebagai kebenaran, yakni Allah yang senantiasa dan selalu setia
pada janji-janjiNya. Karena kesetiaan itu, Dia telah menganugerahkan anakNya
yang tunggal kepada kita, menebus dosa kita dan memulihkan hubungan kita yang
terputus karena dosa. Itulah sebabnya mengapa hanya Yesuslah yang disebut
sebagai Amin (bdk. Why 3:14). Yesus adalah Amin dari cinta Bapa yang definitif terhadap kita, Ia mengambil alih dan menyelesaikan Amin kita kepada Bapa.
Ketiga, mengucapkan
kata Amin itu sama dengan tanggapan
Maria ketika menerima kabar dari Malaikat Gabriel bahwa ia akan menjadi Bunda
Allah (Paus Yohanes Paulus II, bdk. Luk 1:38). Dengan begitu, setiap kali
mengucapkan Amin, sikap iman kita
adalah menyerahkan diri dan membuka hati, supaya Allah berkarya di dalam hidup
kita. Maka dari itu, hidup sehari-hari kita seharusnya merupakan Amin atas kepercayaan dan atas pengakuan
iman pembaptisan kita.
Demikianlah, kata Amin memiliki makna yang sangat mendalam, baik dari segi arti kata
maupun dari segi biblis. Karena sering
mengucapkan kata Amin dalam hidup
iman kita, mari kita selalu mengingat makna yang tersembunyi di balik kata itu.
Itulah ekspresi iman dan penyerahan diri kita secara total kepada Allah, bahwa
hanya Dialah yang kita percaya dan kita andalkan. Juga kepada Tuhan Yesus sang
Putra yang telah menyelesaikan seluruh Amin
kita kepada Allah, dan dengan perantaraan Roh Kudus, mempertahankan ikatan iman
kita kepada Bapa. (hobertusjodi,
gambar: pinterest, materi: berbagai sumber)
Reviewed by burungberkicau
on
September 20, 2020
Rating:


