AKU PERCAYA “akan persekutuan para Kudus”
Sepenggal doa Aku Percaya ini, dilatarbelakangi
paham Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang dipanggil Allah melalui iman dan pembaptisan (bdk. Komp KGK
147). Yang dimaksud orang-orang ini adalah mereka yang masih hidup di dunia
maupun yang sudah meninggalkan dunia (di api penyucian atau di surga). Mereka semua adalah bagian dari satu tubuh mistik, dengan Kristus
sebagai kepala (sancti), dan masing-masing
anggota berbagi kebaikan, keselamatan
dan kekudusan terhadap semua anggota (sancta).
Mereka yang berada dalam neraka bukan merupakan bagian dari persekutuan ini.
Gereja yang satu mempunyai tiga status
namun saling berhubungan, karena tidak ada yang dapat memisahkannya (bdk. Rom
8:38-39, Ef 4:16). Maka Gereja yang
telah berada di surga dapat mendoakan Gereja yang berada di api penyucian dan yang
masih berziarah di dunia. Gereja yang di api penyucian dapat menerima dukungan
doa-doa dari Gereja di dunia dan di surga. Gereja di dunia ini dapat saling
membantu antara anggotanya, mendoakan Gereja yang masih berada di api penyucian
dan juga memohon dukungan doa dari Gereja yang di surga.
Kebaikan, keselamatan, dan kekudusan ini
mengalir dari Kristus sendiri. Yang termasuk dalam hal ini adalah: sakramen-sakramen;
iman, pengharapan dan kasih; karisma-karisma; dan perbendaharaan kekayaan
rohani Gereja.
Mungkin
kita bertanya, mengapa mereka yang ada dalam neraka tidak
termasuk dalam persekutuan para Kudus, padahal dulunya juga termasuk dalam
bilangan yang dipanggil dan dibaptis? Mengapa mereka yang ada dalam api penyucian
tidak bisa mendoakan orang lain atau
bahkan dirinya sendiri?
Dunia
bersifat
sementara, masih ada kemungkinan perubahan, tidak abadi. Manusia masih bisa
berubah menjadi Kudus (anggota komunitas para Kudus) atau menjadi tidak Kudus
(anggota komunitas para orang tidak Kudus). Pada waktu manusia meninggalkan
dunia, masuk alam baka yang abadi, mencapai kepenuhan dan sempurna. Manusia
mengalami kepenuhan dalam penderitaan (neraka), dalam pemurnian (api penyucian)
ataupun kebahagiaan (surga).
Mereka
yang ada di neraka mungkin pernah dipanggil, beriman dan
dibaptis. Dalam perjalanan waktunya menolak atau tidak mengakui rahmat dan
karya Allah. Penolakan ini menjadikan mereka tidak Kudus lagi, sampai akhirnya
memasuki keabadian yang definitif. Akibatnya mereka tidak termasuk dalam
bilangan para Kudus. Akan berbeda,
seandainya mereka bertobat ketika masih hidup di dunia, bisa masuk dalam
bilangan para Kudus.
Mereka
yang ada di api penyucian juga
memasuki keabadian yang definitif. Hidup mereka sudah tidak bisa berubah
seperti ketika masih di dunia, mereka tidak bisa bertobat lagi karena sudah
abadi, definitif. Mereka hanya bisa menerima dan menjalani yang sudah
diputuskan. Dengan demikian, doa-doa kita untuk mereka tidak bisa mengurangi kualitas
pemurniannya. Kualitas berhubungan dengan ‘alam
rasa’ (rasa malu yang amat sangat) bukan masalah berat atau lamanya (ini
masih berhubungan dengan ruang dan waktu). Doa-doa itu bersifat menemani
penderitaan mereka karena pemurnian itu. Dalam suasana atau dunia api punyucian
tidak mengenal istilah grasi (pegurangan
hukuman) ataupun amnesti (penghapusan
hukuman).
Mereka
yang ada di surga, jelas adalah Kudus, secara abadi hidup
bersama Allah yang adalah Kudus, tidak bisa berubah lagi menjadi orang yang
tidak Kudus, maka termasuk dalam bilangan para Kudus. Secara difinitif sudah
diputuskan menjadi pendoa dan perantara berkat bagi Gereja yang masih berada di
dunia ataupun yang sudah berada dalam api penyucian.
Semakin kita menyadari tentang Gereja, yang
dibangun dari persekutuan para Kudus, hal ini akan mempengaruhi hidup kita.
1. Kita
mensyukuri bahwa menjadi anggota tubuh mistik Kristus, sehingga dapat menerima
rahmat dari Kristus sebagai kepala Gereja dan juga segala hal yang baik yang
dilakukan oleh segenap anggota Gereja.
2. Kita
menyadari bahwa perbuatan kita dapat mempengaruhi kehidupan kita nantinya: hidup
menderita, dimurnikan atau berbahagia secara abadi, maka sudah seharusnya kita
melakukan hal-hal yang membangun kekudusan.
3. Kita
harus saling membantu (solidaritas) sesama anggota Gereja baik yang ada di
dunia, di api penyucian atau di surga, dengan cara berdoa dan berbuat kasih. (hobertusjodi, gambar: pinterest,
materi: berbagai sumber)
Reviewed by burungberkicau
on
August 23, 2020
Rating:


