APAKAH BERDOA DAN BAGAIMANA CARA MEMBUAT DOA YANG BAIK
1. Apa
Artinya Berdoa
Berdoa adalah mengangkat hati dan
budi menuju Allah, berkomunikasi atau berdialog dengan Allah secara terbuka
dari hati ke hati (wawan hati) dengan penuh ketulusan hati, tidak basa-basi
atau formalitas belaka. Berdoa harus didasarkan pada kerendahan hati dan iman
bahwa Allah tentu memberikan yang terbaik dan terindah, pada waktunya, sehingga
tidak perlu memaksakan keinginan diri di hadiratNya (sesuai dengan
kehendakNya).
Berdoa
selalu merupakan rahmat Allah yang datang untuk berjumpa dengan manusia. Doa
Kristen ialah relasi kita yang personal dan hidup dengan Bapa yang Mahabaik, dengan PutraNya Yesus
Kristus, dan dengan Roh Kudus yang tinggal dalam hati kita (bdk. KKGK 534).
Oleh
karena itu tidaklah dapat dipungkiri bahwa berdoa merupakan suatu bagian
penting bagi orang beriman. Tanpa doa, iman kita akan lemah tanpa daya, kering
dan tidak berbobot, tapi dengan berdoa iman kita dikuatkan, diteguhkan,
ditopang hingga kokoh kuat tak tergoyahkan. Maka kebiasaan berdoa bagi umat
Katolik sangatlah penting mulai dari anak-anak hingga orang tua dan kakek nenek
tak terkecuali wajib berdoa. Bagaimana berdoa yang benar secara Katolik?
- Struktur
dan Isi Doa
a. Menyapa Allah (Anaklesis)
Doa
Gereja selalu dimulai dengan menyapa Allah dalam berkat dan penyembahan. Dalam
berkat Allah mencurahkan anugerahNya dan diterima oleh manusia yang bersatu
melalui sapaan timbal-balik. Karena Allah memberkati, maka hati manusia dapat
memuja Dia sebagai sumber segala berkat. Sementara penyembahan adalah sikap
pertama manusia yang mengakui diri sebagai makhluk ciptaan Allah di hadapan
PenciptaNya. Kita memuliakan kebesaran Allah yang menciptakan kita, dan kuasa
penyelamatanNya yang membebaskan kita dari semua hal yang jahat.
b. Mengenangkan Karya Allah (Anamnesis)
Setelah
menyapa Allah karena berkatNya, kemudian kita mengenangkan karya Allah dengan
pujian. Kita memberikan hormat kepada Allah, bukan hanya karena misteri
karya-karyaNya, melainkan karena Allah ada. Melalui pujian kita ikut mengambil
bagian dalam karya Allah dan mencintai Allah dalam iman, sebelum kita memandang
Allah dalam kemuliaanNya.
c. Memohon kepada Allah (Epiklesis)
Kita
percaya bahwa karya Allah itu berlangsung terus-menerus dalam hidup kita, maka pada
bagian ini kita memohon kepada Allah, memanggil Roh Allah agar bekerja bagi
kita saat ini. Diri kita yang berdosa ini selalu berpaling dari Allah dan
kehendakNya. Maka permohonan merupakan langkah kita berbalik kepada Allah untuk
meminta pengampunan Allah, itulah permohonan kita yang utama (bdk. Luk 18:13). Kemudian Yesus
mengajarkan bahwa pusat permohonan kita ialah kerinduan akan Allah dan
pencarian Kerajaan Allah (bdk. Mat 6:10.33; Luk 11:213). Maka kita memohon
datangnya Kerajaan Allah dan kemudian memohon segala sesuatu yang kita butuhkan
untuk menerimaNya dan untuk turut bekerja demi kedatanganNya.
d. Konklusi Trinitaris (Doksologi)
Bagian
penutup dari doa kita berisikan pujian kepada Allah Bapa dengan pengantaraan
Yesus Kristus PuteraNya, dan dalam persatuan dengan Roh Kudus, dengan
persetujuan umat: Amin. Seharusnya kita selalu mengakhiri atau menutup doa-doa
kita dengan rumusan konklusi trinitaris yang tepat seturut kebenaran iman
seperti itu.
Rumusan
untuk mengakhiri suatu doa yang diarahkan atau ditujukan kepada Allah Bapa:
Dengan pengantaraan Yesus Kristus, PuteraMu, Tuhan kami, yang bersama Dikau
dalam persatuan dengan Roh Kudus hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala
masa. Amin.
Ada pula rumusan untuk mengakhiri
doa yang diarahkan atau dialamatkan kepada Yesus Kristus, Putera Allah: Sebab
Engkaulah Tuhan, pengantara kami, yang bersama dengan Bapa, dalam persatuan Roh
Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, kini dan sepanjang masa. Amin. (hjh, dari berbagai sumber)
Reviewed by burungberkicau
on
June 02, 2020
Rating:


