ALLAH PUTERA. “Iblis itu hebat, harus diakui? Tetapi Allah lebih hebat, harus dipercayai!”
Ada
pertanyaan, mengapa Allah mau (mau-maunya) menjadi manusia,
padahal sudah hidup enak bertahkta di Surga? Mengapa Allah tidak cukup hanya
mengutus Malaikat atau Nabi seperti yang dilakukan pada masa Perjanjian Lama? Pasti
ada kedaruratan yang luar biasa yang
membuat Allah harus turun tangan sendiri untuk melakukan itu. Situasi darurat
apakah itu? Jawaban klasik tetapi mendasar: karena dosa manusia.
Mengapa manusia terus melakukan dosa,
padahal manusia (pasti) tidak suka akan dosa dan tahu (pasti) akibat kalau
melakukan dosa? Nah, ini
permasalahannya. Sudah sekian kali diperingatkan, sudah sekian kali diampuni,
tetap saja kembali melakukan dosa lagi dan lagi.
Harus
diakui, dosa itu memikat. Mengapa manusia
mudah terikat oleh pesona dosa? Iblis membuat promosi dan packaging yang super menarik sehingga bisa memuaskan mata, telinga
dan hati manusia. Sampai bisa mengubah fokus manusia, dari percaya menjadi
mempertanyakan kebaikan dan kasih Allah yang selalu ada untuk manusia.
Kita
lihat pengalaman Hawa dan Adam jatuh ke dalam dosa (lih. Kej 3). Godaan yang
diluncurkan Iblis pada Hawa. Godaan mata (visual):
melihat buah pengetahuan itu menarik! Godaan telinga (Audio): mendengar tawaran akan menjadi seperti Allah. Akhirnya fokusnya
bergeser, menjadi meragukan kebaikan dan kasih Allah yang selama itu dialami di
taman Eden. Maka jatuhlah manusia pertama itu ke dalam dosa.
Bahaya dosa yang
membuat Allah sampai turun ke dunia menjadi manusia yaini: pertama, dosa
merendahkan derajat manusia. Manusia diciptakan secitra dengan Allah, karena
dosa, manusia kehilangan kemuliaan Allah (bdk. Rm 3:23). Kedua, hati yang
menjadi inti hidup dan pusat identitas manusia menjadi keras (bdk. Ibr 3:8),
sehingga manusia menjadi cuek, acuh dan tidak peduli. Ketiga, Damai dan
kebahagiaan manusia dihisap habis oleh dosa (bdk. Mzm 38:6), menjadi tidak
tenang hidupnya. Keempat, dosa menyeret manusia ke dalam kebinasaan kekal (bdk.
Yoh 3:36), masuk Neraka.
Menurut
ajaran Gereja, dosa Hawa dan Adam itu diwariskan hingga sekarang (dosa asal),
tidak mau ketinggalan Iblispun menggoda manusia sampai sekarang dengan cara
yang disesuaikan juga dengan perkembangan jaman. Hebatkan Iblis? Maka perlu
dihadapi dan diatasi dengan pribadi dan cara yang hebat pula, bahkan lebih
hebat tentunya!
Sehingga Allah rela turun ke dunia, lahir
dari perawan Maria. Dengan demikian, kecongkakan atau kesombongan dan
ketidakpercayaan Hawa yang melahirkan malapetaka kematian dihapus oleh
kepercayaan, ketaatan dan kerendahan hati Perawan Maria. Melalui Maria dan
Puteranya Yesus Kristus, jalan kepada Allah yang terputus oleh dosa Hawa dan
Adam ditemukan kembali. Allah menjadi manusia, lahir dan hidup, berkarya dan sengsara,
wafat dan bangkit, dan naik ke Surga. Demi apa, coba?!
Demi cintaNya kepada manusia!
Cinta kasih Allah kepada manusia tidak pernah sirna oleh kedosaan manusia. Cintakasih
Allah ternyata jauh melebihi kejahatan dosa manusia. Di sinilah terlihat nilai
positif dari dosa manusia pertama, yaitu bahwa dosa Adam ternyata mendatangkan
anugerah terbesar Allah kepada umat manusia, yakni pengutusan Yesus Kristus
sebagai Penebus dosa manusia. Dosa Adam menjadi felix culpa (dosa yang membahagiakan) karena mendatangkan Yesus
Kristus, Adam kedua. Oleh perbuatan Adam (Adam pertama) dosa masuk ke dalam
dunia, tetapi oleh perbuatan Yesus Kristus (Adam kedua), keselamatan datang ke
dalam dunia. Adam diciptakan untuk mempersiapkan kedatangan Adam sejati, yaitu
Yesus Kristus, Allah Putera, Penebus dunia. (hobertusjodi,
gambar: pinterset, materi: dari berbagai sumber)

