Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskan (Mark. 7,1-8; 14-15; 21-23)

 

Pada jaman Tuhan Yesus, orang-orang Yahudi memiliki 613 peraturan untuk memelihara pelaksanaan hukum Taurat. Pada abad II semua peraturan tradisional itu dituliskan dan diberi nama Mishnah dan Talmud. Peraturan-peraturan itu menjadi pegangan untuk mempertahankan identitas Israel. Identitas itulah yang membedakan Israel dengan bangsa-bangsa kafir, sehingga yang melanggar peraturan itu pun dipandang sebagai pendosa.

Para imam wajib mencuci tangan dan kaki sebelum memasuki Kemah Suci (Kel. 30,19; 40,12). Lama-kelamaan peraturan yang hanya untuk para imam itu diperluas dan dipaksakan untuk semua orang Yahudi. Orang harus membasuh tangan sebeum doa pagi dan sebelum makan roti. Para ahli Taurat telah memaksakan seruan, “Kuduskanlah kamu bagi-Ku” (Im. 20,26) dengan ritus-ritus kesucian yang lahiriah. Kaum Farisi melaksanakan peraturan-peraturan itu secara ketat. Maka ketika para ahli Taurat dan kaum Farisi meliaht murid-murid Tuhan Yesus makan dengan tangan najis, yaitu tidak membasuh tangan lebih dahulu, mereka mempertanyakan kepada Tuhan Yesus dan menuduh-Nya gagal mendidik para murid-Nya. Oleh karena itu Tuhan Yesus menjawab dengan mengutip perkataan nabi Yesaya (Yes. 29,13) yang menekankan ibadat dari hati. Para imam memang diwajibkan menjaga kebersihan lahiriah sebagai ungkapan hormat terhadap benda-benda kudus yang mereka pegang di Bait Allah. Tetapi kewajiban itu kalah pentingya dibanding dengan mentaati perintah Allah untuk mengasihi-Nya dengan sepenuh hati (Ul. 6,4). Manusia yang lebih mementingkan tradisi demi kesucian lahiriah berarti memperkosa perintah utama dan dengan sendirinya berlaku munafik. Sebab bukan kesucian lahiriah yang membuat orang berkenan kepada Allah. Lagi pula penajisan bukan ditentukan oleh tindakan lahirian, tetapi batiniah yang bersumber pada hati. Makanan tidak ada sangkut pautnya dengan hati, sehingga kedisiplinan menaati peraturan kesucian lahiriah tidak akan mengubah hati.

Pelaksanaan tuntutan adat kebiasaan lahiriah tidak akan menghilangkan kotoran hati yang menjadi sumber tindakan kenajisan. Tuhan Yesus berkata: “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskan, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.” Pikiran jahat menimbulkan sikap dan perbuatan jahat. Percabulan adalah penyimpangan seksual. Perzinahah adalah hubungan seksual antar laki-laki yang sudah atau belum beristri dengan perempuan yang sudah bersuami. Keserakahan adalah tindak kejahatan akibat hawa nafsu seks. Kelicikan adalah tipu muslihat dan pengkhianatan. Iri hati berkaitan dengan kikir dan cemburu terhadap milik orang lain. Hujat berarti menentang kuasa Allah. Kesombongan adalah keyakinan berlebihan yang tidak berdasar pada kemampuan diri. Kebebalan berkenan dengan ketidakmauan orang untuk mengenal Allah.

Kadang-kadang kita masih ragu-ragu dan takut untuk merombak tradisi dan aturan keagamaan yang tak berperikemanusiaan lagi, padahal Tuhan Yesus telah mengajarkan bahwa ukuran kesucian bukan asal setia pada aturan-aturan lahiriah, tetapi pada kesucian hati. Tidak jarang kita pun merasa sudah hidup saleh asal taat pada aturan-aturan lahiriah keagamaan. Mengapa demikian? Tuhan Yesus telah mengajarkan bahwa sumber kenajisan bukan dari apa yang masuk, tetapi apa yang keluar dari dalam seperti pikiran jahat, percabulan, hawa nafsu, keserakahan, dan iri hati. Kita adalah pengikut-pengikut Kristus zaman ini yang seharusnya terus-menerus mengutamakan kesucian hati daripada kesucian lahiriah yang hanya menaati aturan keagamaan. Apa mau kita sekarang? (gambar: pinterest, materi: inspirasi batin)


Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskan (Mark. 7,1-8; 14-15; 21-23) Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskan (Mark. 7,1-8; 14-15; 21-23) Reviewed by burungberkicau on August 29, 2021 Rating: 5
Post view: