4. Misa Online, Tidak Cukup!
Bobby diajak teman OMK untuk pergi ke Misa di gereja paroki pada hari Minggu. “Bob, ayo kita ke gereja, kita dapat jatah nih untuk Misa offline di paroki!” ajak Stefan, temannya, kepadanya. Bobby menjawab, “Ah, aku mau Misa online saja nih, Stef, soalnya juga mau nggarap tugas paper untuk besok pagi sekalian.” Akhirnya, Stefan berangkat sendiri ke gereja.
Hampir satu tahun Gereja
harus terbiasa dengan Misa streaming atau online. Awalnya terasa aneh. Terutama
para orang tua merasa tidak mantap hatinya. “Misa kok streaming, kayak nonton sepak
bola.” Namun lama-kelamaan orang sudah menjadi terbiasa. Misa online kini sudah
menjadi kebiasaan pada masa pandemi ini bagi sebagian besar orang Katolik.
Meski paroki sudah membuka pintu bagi Misa secara langsung di gereja, tentu
dengan protokol kesehatan yang ketat, masih ada saja orang-orang Katolik yang
sudah “merasa cukup” dengan Misa online. Ketika paroki-paroki mulai membuka
pelayanan Misa di gereja (Misa offline), ternyata umat yang datang tidak lebih dari
50% dari jumlah umat yang diperbolehkan hadir yaitu antara umur 10-70 tahun.
Kata mereka: “Aku Misa online di rumah saja!” “Saya streaming dari gereja anu
….”, dsb.”.
Benarkah Misa online itu
sudah cukup, dan bahkan dianggap dapat menggantikan Misa di gereja (offline)?
Paus Benediktus XVI mengatakan dalam Anjuran Apostolik Sacramentum Caritatis
bahwa Misa lewat tayangan (online) tidak dapat menggantikan Misa di gereja
secara nyata. “Gambaran-gambaran visual memang dapat menampilkan realitas, tetapi
mereka tidak sungguh-sungguh menghasilkannya” (SCar. 57). Misa online itu
praktis merupakan kegiatan “nonton Misa”, walaupun tetap dapat membantu kita
dalam berdoa dan berjumpa dengan Tuhan dalam batin, tetapi tidak membuat kita
dapat berjumpa dengan Tuhan secara sakramental. (Materi hari 4 Bulan Katekese Liturgi 2021, Komisi Liturgi
Keuskupan Agung Semarang)
Reviewed by burungberkicau
on
May 03, 2021
Rating:


