29. Santo Yusuf, Bapa yang dalam Bayang-bayang
Lama,
nama Santo Yusuf seperti “tidak mendapatkan tempat” dalam liturgi Gereja
Katolik. Baru pada tanggal 13 November
1962, Paus Yohanes XXIII memasukkan nama Santo Yusuf dalam Doa Syukur Agung I
(DSA I). Dan melalui Dekret Paternas
Vices, tertanggal 1 Mei 2013, Kongregasi Ibadah Ilahi dan Tata Tertib
Sakramen memasukkan nama Santo Yusuf dalam DSA II, III, dan IV. Sejak saat itu,
nama Santo Yusuf selalu disebut setelah nama Santa Perawan Maria dalam Doa
Syukur Agung.
Dalam Kitab Suci sendiri, Santo Yusuf juga hanya diceritakan pada awal masa hidup Yesus. Kita tidak menemukan kalimat atau kata-kata yang disampaikan olehnya. Walaupun seperti menjadi tokoh yang diam, Santo Yusuf berperan sebagai bapak yang mendidik, mendampingi, dan mengasihi Yesus, sehingga pada akhirnya Yesus siap untuk berkarya mewartakan Kerajaan Allah. Santo Yusuf menjadi bayangan Bapa Surgawi bagi Yesus. Artinya, ia menghadirkan kasih Bapa yang menguatkan dan meneguhkan Yesus.
Banyak
orang dan dunia saat ini membutuhkan para bapak sebagaimana Santo Yusuf. Kita
semua seperti anak-anak yang memerlukan kasih dan pendampingan dari bapak agar
bertumbuh dewasa secara manusiawi dan iman. Pada saat yang sama, kita dipanggil
untuk menghadirkan kasih Bapa Surgawi
bagi sesama di sekitar kita dan terlebih bagi
mereka yang merindukan kasih sayang dari seorang bapak.
Marilah kita belajar dari kasih kebapaan Santo
Yusuf. Ia mengasihi Yesus dengan tulus
dan lepas bebas. Yesus bukan miliknya. Maka Yusuf merelakan-Nya ketika Yesus meninggalkan
keluarga untuk melaksanakan kehendak Bapa Surgawi. Kita pun diajak untuk
menghadirkan kasih Bapa Surgawi kepada anggota keluarga kita masing-masing
dan kepada sesama yang kita jumpai serta
yang ada di sekitar kita. Bukan agar
mereka terikat dan menjadi milik kita, namun agar mereka merasakan sendiri
kasih dari Bapa Surgawi. (Materi
hari ke 29, Bulan Katekese Liturgi Mei 2021, Komisi Liturgi Keuskupan Agung
Semarang)
Reviewed by burungberkicau
on
May 29, 2021
Rating:


