TUHAN YESUS DAN NATAL. “Jesus’ Christmas”

 

Perayaan Natal adalah mengenangkan kelahiran Tuhan Yesus, Allah yang menjadi manusia. Alasannya karena manusia berdosa. Kita tahu bahwa hanya dengan bertobat dosa itu diampuni, relasi dengan Allah dan sesama menjadi baik kembali. Namun kita juga tahu manusia sulit untuk mengerti dan melakukan pertobatan itu. Sehingga diperlukan Allah yang menjadi manusia, tetapi tidak semua orang bisa memahami dan menerima perlunya Allah yang menjadi manusia ini.  

Ada sebuah cerita kuno yang berusaha menjelaskan peristiwa ini. Saya akan tulis ulang cerita tersebut dengan sedikit perubahan, semoga dapat menginspirasi untuk lebih memahami perlunya Allah menjadi manusia. 

Di suatu kota, ada sebuah keluarga Kristen yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Sang ayah tidak percaya akan Natal, ia tidak bisa menerima ajaran bahwa Allah menjadi manusia.

Di malam Natal, istri dan anaknya hendak pergi ke gereja dan mereka mengajaknya. “Kamu tahu aku tidak bisa karena aku tidak percaya pada perayaan Natal. Kalau aku datang, maka aku akan merasa sebagai orang munafik. Bukankah Tuhan membenci orang munafik? Kalian saja yang pergi, aku di rumah saja.” Maka, malam itu sang ayah tinggal di rumah dan tak berapa lama petir menggelegar dan hujan turun dengan lebatnya.

Saat sedang duduk dan menikmati minuman hangat, tiba-tiba di jendela terdengar bunyi ketukan-ketukan kecil. Saat ia menengok ke jendela itu, tampak dua ekor burung yang basah kuyup dan menggigil kedinginan. Kedua burung itu sedang berteduh setelah kehujanan. Tapi, angin yang sangat kencang bagaimanapun juga tetap membuat kedua burung itu menderita.

Sang ayah mencoba mengambil satu kardus sepatu dan menaruh jerami di dalamnya, lalu menaruh di meja dekat jendela itu. Maksudnya, supaya burung itu bisa masuk ke rumah yang hangat dan beristirahat di kotak itu. Tapi, sepasang burung itu tetap saja bergeming. Mereka tetap berdiri gemetaran di tepi jendela.

Sang ayah kasihan sekaligus gemas melihatnya. Maka ia pun memutar akal. Makanan! Ah, pasti mereka mau jika di kotak itu aku taburkan biji-bijian. Maka, sekali lagi ia ke dapur dan menacari biji-bijian yang sekiranya dapat menjadi makanan bagi kedua burung itu. Setelah menemukan, ia lalu menaburkan biji-bijian itu ke kotak jerami tadi. Tapi, kedua burung itu tetap diam saja. Mereka tetap dalam penderitaannya melawan hujan deras dan angin kencang. “Kalau begini terus, mereka pasti akan mati!’ demikian pikir sang ayah. Sang ayah bahkan sampai keluar dari rumah dan berusaha menghalau kedua burung itu masuk ke dalam rumah, tetapi burung itu hanya melangkah di sepanjang kusen jendela itu. Ia ingin menangkap keduanya dengan tangan, tapi khawatir, justru itu akan membuat keduanya terbang dan makin celaka.

Ia berpikir, “Ah, burung bodoh. Seandainya saja aku bisa menjadi burung dan bicara dengan mereka. Pasti mereka akan mengerti bahwa mereka akan selamat kalau menurutiku.“ Tiba-tiba terdengar bunyi lonceng gereja. Saat itu juga, sang ayah itu sadar bahwa itu juga yang mungkin dipikirkan Allah saat melihat manusia yang bebal dan berjalan menuju maut! Maka malam itu ia berlutut dan berdoa. Meski hanya seorang diri, malam itu ia merayakan Natal pertamanya.

Ini hanya cerita tentang burung, kita tahu bahwa kita bukan burung. Tetapi karena kita bukan burung inilah yang membuat Allah tidak cukup menjadi manusia. Kita masih membuat Allah yang telah rela menjadi manusia itu harus mati disalib untuk menanggung dosa kita. Sungguh luar biasa, sudah dikasih hati masih minta jantung, yah... itulah kita. (hobertusjodi, gambar: pinterest, materi: berbagai sumber)


TUHAN YESUS DAN NATAL. “Jesus’ Christmas” TUHAN YESUS DAN NATAL. “Jesus’ Christmas” Reviewed by burungberkicau on December 13, 2020 Rating: 5
Post view: