NATALNYA MARIA, IBU TUHAN YESUS. “Mary’s Christmas”
Peran Maria dalam kisah kelahiran Tuhan Yesus sangat
penting dan tidak tergantikan, bahkan telah dipersiapkan sudah sejak sebelum Maria
sendiri lahir. Sehingga menghasilkan seorang wanita yang walaupun masih muda,
berani mempercayakan masa depannya ke dalam tangan Tuhan. Beberapa alasan
mengapa Maria dipakai Tuhan dalam sejarah keselamatanNya:
1.
Maria adalah gadis muda yang mengenal Firman dan
melakukannya.
“Aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu
itu” (Luk 1:38). Ini adalah keputusan yang dengan penuh keberanian dilakukan
oleh Maria. Bukan tanpa pengertian Maria membuat keputusan itu, Maria
benar-benar mengerti dengan perkara yang ia setujui itu. Kalau kita lihat
nyanyian pujian Maria (bdk. Luk 1;46-55), kita tahu bahwa Maria bukan gadis
desa lugu yang tidak tahu apa-apa, ternyata Maria sangat mengenal janji-janji
Tuhan dalam Perjanjian Lama (bdk. Yes 7:14).
Jadi
Maria mengerti betul akan keputusannya menyerahkan rahimnya untuk mengandung sang Mesias yang dinantikan
banyak orang. Pengetahuannya tentang janji-janji Tuhan menjadikan setiap
keputusannya sebagai persembahan bagi Tuhan.
2.
Maria adalah sosok ibu yang penuh kasih.
Maria selalu setia mendampingi Tuhan Yesus dalam melewati
segala musim kehidupanNya. Pada saat Yuhan Yesus masih dalam kandungan,
melakukan perjalanan darat Nazaret – Betlehem, sepanjang 150 KM (bdk. Luk 2:4-5).
Bersama dengan Yusup, Maria menyaksikan Tuhan Yesus bernafas pertama kalinya
dengan suka cita, dalam sebuah kandang (bdk. Luk 2:7). Ketika Tuhan Yesus
bertumbuh, menyunatkanNya (bdk. Luk 2:21), mengantar ke Bait Allah di Yerusalem
(bdk. Luk 2:22). Ini semua membuat Tuhan Yesus bertambah besar dan menjadi kuat,
penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada padaNya (bdk. Luk 2:40).
Maria
juga setia bersama Tuhan Yesus pada waktu membuat muzijat pertama di Kana (bdk.
Yoh 2:1-11), saat Tuhan Yesus disiksa sampai mati di kayu salib (bdk. Yoh
19:25), saat di kuburan Tuhan Yesus (bdk. Yoh 20), bahkan sampai saat Tuhan
Yesus terangkat ke surga (bdk. Yoh 24:50-53). Maria ikut aktif juga melayani di
jemaat mula-mula (bdk. Kis 1:14).
3.
Maria adalah istri yang berbakti kepada Tuhan, suami dan
anaknya.
Maria
selalu menemani Yusup menghadiri perayaan Paskah setiap tahun di Yerusalem,
walaupun hukum tidak mewajibkan kaum wanita menghadirinya (bdk. Luk 2:41),
sebuah perjalanan yang panjang (lebih kurang 300 KM, pergi pulang). Walaupun
tidak memahami perkataanNya pada saat berusia 12 tahun yang sedang berdialog di
Bait Suci, Maria tetap menghormati Tuhan Yesus dan tidak memarahinya (bdk. Luk
2:48-50). Maria menyimpan semua perkataan Tuhan Yesus itu dalam hatinya (bdk.
Luk 2:51). Ini membuktikan Maria sangat menghargai hal-hal rohani, dengan
cermat Maria merenungkan pengalamannya dengan Tuhan Yesus.
4.
Maria adalah pribadi yang mempunyai perspektif Allah.
Pada
waktu Gabriel diutus Allah untuk memberi tugas ini, Maria bisa saja menolaknya
demi keselamatannya sendiri (dirajam sampai mati karena ketahuan mengandung di
luar pernikahan, dosa berzinah). Namun dengan berani Maria menerima tugas itu
karena dia melihat dengan cara pandang Allah bahwa penggenapan janji Allah
dalam Perjanjian Lama melalui dirinya (bdk. Yes 7:14).
5.
Maria adalah orang yang rela membayar harga untuk
menjalankan rencana Allah.
Dikasihi Allah yang mahabaik atau bekerja sama dengan
Allah yang mahakuasa tidak selalu menyenangkan, ada harga yang harus
dibayarkan. Demikian juga Maria, harus rela hidup miskin. Hanya sanggup
mempersembahkan 2 ekor burung dara muda di Bait Allah, bukan standar domba
jantan muda (bdk. Luk 2:24). Namun demikian Maria dan Yusup tetap
memprioritaskan pendidikan iman pada Tuhan Yesus.
Maria
juga harus rela hidup menjadi pengungsi, mengungsi ke Mesir demi keselamatan
Tuhan Yesus karena ancaman pembunuhan Herodes (bdk. Mat 2:13-15). Tinggal di
negeri asing bisa jadi sulit dan membingungkan, tetapi kehendak Allah harus di
atas kehendaknya sendiri.
6.
Maria adalah wanita yang bertekun menghadapi kesengsaraan
dan kehilangan.
Tuhan tidak pernah berjanji bahwa mengikuti Dia akan
bebas dari masalah. Yang Dia janjikan adalah penyertaan dan kekuatan untuk
menghadapi masalah tersebut. Sebagai manusia biasa, Maria juga menghadapi banyak
masalah. Misalnya, kehilangan Yusup suaminya, dia meninggal sebelum Tuhan Yesus
mulai berkarya. Inilah sebabnya Tuhan Yesus mempercayakan ibuNya kepada Yohanes
(bdk. Yoh 19:26-27). Juga mengalami penderitaan Tuhan Yesus selama berkarya dan
di kayu salib. Maria merasa seolah-olah sebilah pedang menembus jiwanya (bdk.
Luk 2:34-35).
Milikilah hati seperti Maria, yang mengasihi Tuhan, yang
dengan berani mau dipakai Tuhan menjadi perantara berkatNya, menjadi bagian
dari karya keselamatan Tuhan sesuai
dengan cara hidup kita. (hobertusjodi, gambar: pinteres, materi: berbagai
sumber)
Reviewed by burungberkicau
on
November 29, 2020
Rating:


