LIMA PILAR PELAYANAN GEREJA “Diakonia atau Pelayanan”
Ada sedikit
perbedaan maksud antara PELAYANAN (ditulis dalam huruf besar) yang menjadi
pilar Gereja dan pelayanan (ditulis dalam huruf kecil) yang menterjemahkan kata
diakonia.
Kita
tahu bahwa Gereja bukan institusi duniawi melainkan umat Allah, tubuh Mistik
Tuhan Yesus (bdk. koinonia atau persekutuan).
Kedatangan Tuhan Yesus bertujuan untuk MELAYANI (bdk. Mrk 10:45). Jadi
keberadaan Gereja bertujuan untuk MELAYANI, seluruh aktifitas Gereja adalah PELAYANAN, apapun itu. Jadi, kerygma, liturgia, koinonia, diakonia, martyria
termasuk dalam PELAYANAN Gereja (PELAYANAN = karya, bidang karya).
Sedangkan
pelayanan yang menterjemahkan kata diakonia
(bahasa Yunani) berasal dari kata diakon
(kk) berarti melayani. Melayani menurut pengertian ini adalah membantu
menyiapkan atau mengurus atau meladeni sesuatu yang diperlukan seseorang. Misalnya,
hamba melayani tuannya (bdk. Luk 17:10).
Dalam
Perjanjian Baru juga memakai kata diakonia
untuk mengartikan pelayanan, bukan
hanya dalam bentuk pelayanan hamba kepada tuannya saja, tetapi juga tuan kepada
hambanya dan pelayanan antar sesamanya (bdk. Mat 4:11; Mrk 1:31; Luk 10:40,
12:37; Yoh 2:5). Sementara Mat 25:31-46 melukiskan pelayanan sebagai memberi
makan dan minum, memberi pakaian dan tumpangan, perawatan dan kunjungan orang
sakit serta para tahanan yang dilihat sebagai pelayanan bagi Tuhan. Kegiatan
ini selalu berhubungan dengan bantuan atau
pertolongan yang sedang diberikan kepada sesama, berhubungan dengan hal-hal
yang perlu untuk hidup wajar di dunia dalam suatu hubungan yang pribadi.
Pada
jaman para rasul, yang melakukan diakonia
adalah orang khusus yaitu diakon. Diakon
memberikan pelayanan bukan hanya karena suatu jabatan, pelayanan ini disebut
juga dengan pelayanan kasih. Subjek dari
pelayanan diakon adalah Allah, Dialah
yang sebenarnya bertindak dalam pelayanan itu. Diakon hanya menyampaikan pemberianNya itu kepada manusia khususnya
mereka yang menderita.
Diakonia dipandang
sebagai sikap solidaritas yang mendalam
terhadap orang lain berdasarkan kasih. Artinya dalam diakonia ada sikap tanpa pamrih, tidak mencari keuntungan diri
sendiri. Tujuan pekerjaan diakonia
adalah membantu orang lain dan menempatkannya pada posisi yang benar di hadapan
sesama dan Tuhan, sebagai manusia yang utuh, baik secara rohani, jasmani dan
sosial. Tujuan diakonia juga
mendukung realisasi sebuah persekutuan cinta kasih dan membangun serta
mengarahkan orang untuk hidup di dalamnya (fungsi kritis).
Melayani
tidak hanya berarti membantu yang membutuhkan pertolongan (obyek), tetapi merupakan suatu pemberian diri (sikap hati).
Sebagaimana yang dilakukan Tuhan Yesus, yang telah datang untuk melayani dan
memberikan hidup dan nyawa bagi banyak orang (bdk. Mrk 10: 45). Jadi, kehidupan
dan pelayanan Tuhan Yesus menjadi
landasan pelayanan Gereja. Memberikan diri bagi sesama yang membutuhkan berarti
juga memberikan hati, waktu, pemikiran, dan tenaga.
Melayani
juga merupakan perwujudan iman untuk mengikuti jejak Tuhan Yesus, sebagai
muridNya. Dari sini dapat ditemukan beberapa
ciri pelayan Gereja.
1. Bersikap
sebagai pelayan. Tuhan Yesus menyuruh para muridNya untuk selalu bersikap yang
paling rendah dan sebagai pelayan dari semua (bdk. Mrk 9:35).
2. Berorientasi
pada kaum miskin. Tuhan Yesus tidak segan untuk hidup bersama kaum miskin.
Gereja bertugas untuk melayani kaum miskin, bukan karena belas kasihan
melainkan karena harkat dan martabat diri yang sama di hadapan Allah (bdk. Kis
6:1-7).
3. Bersikap
rendah hati. Gereja tidak boleh membanggakan dirinya, tetapi tetap melihat
dirinya sebagai hamba yang tak berguna (bdk. Luk 17:10).
Demikianlah
sedikit ulasan tentang pelayanan dalam Gereja. Selamat melayani. (hobertusjodi, gambar: pinterest,
materi: berbagai sumber)
Reviewed by burungberkicau
on
October 18, 2020
Rating:


