PESTA YESUS MENAMPAKKAN KEMULIAANNYA. “Tersungkur karena bersyukur” (Mat 17:1-9)

Tanggal 6 Agustus Gereja di seluruh dunia merayakan Pesta Yesus Menampakkan KemuliaanNya. Matius mengkisahkan bahwa di gunung yang tinggi Yesus berubah rupa, wajahNya bercahaya seperti matahari dan pakaianNya menjadi putih bersinar seperti terang (transfigurasi), dan Dia sedang bebicara dengan Musa dan Elia (bdk. Mat 17:1-9).

Dalam kisah transfigurasi ini saya tertarik dengan reaksi Petrus dalam menyikapi situasi dan kondisi yang dialaminya. Saya tertarik karena heran, kegembiraan Petrus karena mengalami kemuliaan Tuhan berubah menjadi ketakutan karena mendapat teguran dari Bapa. Mungkin kita bertanya apakah yang sebenarnya terjadi?

Reaksi Petrus yang pertama, karena didorong oleh kegembiraan yang luar biasa, dia berkata: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.”  Tiba-tiba Bapa menegur, memotong perkataan Petrus melalui awan yang terang (bdk. Mat 17:5). Mungkinkah ada yang salah dengan perkataan Petrus?

Keinginan Petrus untuk terus-menerus bersama dengan Yesus dalam kemuliaanNya (mendirikan kemah), adalah wajar dan bukan merupakan kesalahan. Petrus bersalah karena tidak mengetahui bahwa kemuliaan Tuhan harus dialami dengan cara turun dari gunung dan berjalan menuju Yerusalem (bdk. Mat 16:21), bukan berada di gunung itu.

Reaksi Petrus yang kedua, dia langsung tersungkur dan sangat ketakutan. Bahkan sampai menelungkupkan wajah ke tanah, tidak berani mengangkat kepalanya. Teguran apakah yang membuat Petrus sampai takluk dan tak berdaya?

Dalam keagunganNya yang dinyatakan melalui awan yang terang, Bapa berkata: ”Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!”  Ternyata Petrus tersungkur bukan karena awan yang terang, bukan karena pernyataan Bapa bahwa Yesus adalah AnakNya yang terkasih dan Dia berkenan. Petrus tersungkur karena Bapa menegurnya dengan sangat keras bahwa dialah yang harus mendengarkan Yesus, bukan sebaliknya! Dia harus menerima dan menaati apa yang Yesus sampaikan, bukan keinginan hatinya sendiri!

Reaksi Petrus yang ketiga, dia baru berani mengangkat kepala ketika Tuhan Yesus menyentuh dan menghiburnya: “Berdirilah, jangan takut!” (bdk. Mat 17:7). Petrus terus-menerus berada dalam posisi tersungkur sampai-sampai Yesus merasa perlu untuk menyentuh dan menghiburnya. Sentuhan ini jelas menyiratkan betapa Petrus sangat ketakutan dan membutuhkan lebih dari sekedar perkataan.

Dari ketiga reaksi Petrus ini, yang muncul karena kegembiraannya, karena ketakutannya, dan karena kekuatan sentuhan, kita bisa belajar beberapa hal:

1.    Kemuliaan Tuhan yang menyelamatkan manusia yang sesungguhnya adalah melalui jalan salib. Petrus menolak jalan itu (bdk. Mat 16:21-23) karena menyedihkan. Memang apapun kesedihan itu, pasti tidak menyenangkan, tetapi jangan ditolak, kita harus menerima dan melampauinya. Kesedihan bisa membuat kita menjadi lebih kuat, lebih baik dan lebih bahagia.

2.    “ ..., dengarkanlah Dia!” Ini teguran yang diterima Petrus karena hanya mendengarkan keinginannya sendiri. Kemuliaan, berkat atau mujizat itu terjadi bukan karena ada Tuhan yang menuruti kehendak  kita, tetapi karena kita mendengarkan dan melaksanakan kehendak Tuhan.

3.    “Berdirilah, jangan takut!” Jika kita mengalami ketakutan dan tidak ada siapapun atau apapun yang bisa menghibur, masih ada Tuhan yang bisa menyentuh dan menghibur yang memampukan kita untuk bangun dan berjalan.

Semoga kemuliaan Tuhan yang kita alami dalam hidup kita, membuat kita tersungkur bukan karena ketakutan tetapi karena bersyukur. (hobertusjodi, gambar: pinterest, materi: Kitab Suci).


PESTA YESUS MENAMPAKKAN KEMULIAANNYA. “Tersungkur karena bersyukur” (Mat 17:1-9) PESTA YESUS MENAMPAKKAN KEMULIAANNYA. “Tersungkur karena bersyukur” (Mat 17:1-9) Reviewed by burungberkicau on August 05, 2020 Rating: 5
Post view: