Bahasa Kasih Dalam Keluarga Yang Sehat
Tentang mengasihi, kita sudah belajar langsung dari Allah. “Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah” (1Tes. 4:9). Kasih ini bisa diungkapkan melalui perkataan dan diwujudkan melalui perbuatan. Dalam keluarga, mengasihi tidak cukup hanya ngomong saja tetapi harus diwujudkan dalam tindakan.
Ada lima bahasa kasih dalam keluarga.

Ada lima bahasa kasih dalam keluarga.
1. Perkataan yang menguatkan.
Hati-hati dengan perkataan, dipikir dulu sebelum berbicara. Perkataan harus menguatkan, tidak melemahkan, tidak melukai. “Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang” (Ams. 16:24). Kata yang manis dan menguatkan akan membawa ketentraman, sukacita dalam keluarga. Perkataan ini bisa berupa pujian.
2. Pelukan yang hangat.
Pelukan adalah ekspresi kasih yang luar biasa. “Kuatkanlah aku dengan penganan kismis, segarkanlah aku dengan buah apel, sebab sakit asmara aku. Tangan kirinya ada di bawah kepalaku, tangan kanannya memeluk aku” (Kid. 2:5-6). Pelukan membuat orang merasa diterima, dilindungi. Yesuspun menyatakan kasihNya melalui pelukan, “lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tanganNya atas mereka Ia memberkati mereka” (Mrk. 10:16).
Saat berpelukan tubuh akan menghasilkan hormon yang memberi rasa nyaman dan bahagia sebagai reaksi sentuhan fisik. Dan ini bermanfaat bagi kesehatan tubuh, karena stress akan turun dan kebahagiaan akan meningkat. Bagi anak-anak, pelukan akan berdampak positip bagi perkembangan otak dan IQ.
3. Pemberian hadiah.
“Hadiah memberi keluasan kepada orang, membawa dia menghadap orang-orang besar” (Ams. 18:16). Hadiah akan membuat ruang bagi yang menerima, ruang untuk memperhatikan dan mengingat. Hadiah tidak perlu mahal, tidak perlu sering, yang baik adalah memberikan yang berharga (sesuatu yang disayangi) dan tepat pada waktunya.
4. Perhatian yang penuh.
Perhatian ini sangat penting bagi hidup berkeluarga. “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik” (Ibr. 10:24). Penyebab terbesar hancurnya keluarga adalah masing-masing anggota keluarga tidak mau peduli, tidak saling memperhatikan (bdk. taman yang dibiarkan maka akan rusak). Salah satu perhatian adalah waktu yang berkualitas, yaitu waktu untuk saling memperhatikan, untuk saling bersama (tidak sekedar berdekatan tetapi tidak bersama).
5. Pelayanan yang baik.
Dalam keluarga sangat penting sikap saling melayani, tidak saling ingin menjadi bos. “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih” (Gal. 5:13). Pemimpin yang baik harus menjadi pelayan, yang terutama harus menjadi hamba. Pelayan yang baik adalah melakukan hal-hal yang baik yang orang lain ingin kita melakukannya.
Keluarga adalah sel paling kecil dalam unsur gereja. Dalam keluarga generasi penerus gereja dibangun, dilahirkan dan dididik. Marilah kita siapkan generasi penerus gereja dengan kasih, dengan mengalami bahasa kasih dalam keluarga. Supaya kelak, kita tidak akan menyesal melihat anak-anak kita. (HJ)
Bahasa Kasih Dalam Keluarga Yang Sehat
Reviewed by burungberkicau
on
August 29, 2016
Rating:
Reviewed by burungberkicau
on
August 29, 2016
Rating:
Post view:

