Wahyu dan Iman, Arti Sebuah Kata
Wahyu dan iman merupakan bentuk hubungan pribadi antara Allah dan manusia. Hubungan pribadi itu berupa komunikasi Allah yang mengundang manusia untuk bertemu dan hidup dalam kesatuan denganNya. Dengan demikian, manusia dipanggil untuk berpartisipasi terhadap undangan Allah tersebut.

Wahyu adalah pernyataan karya keselamatan Allah, yakni pertemuan dan kesatuan Allah dengan manusia. Ini bukanlah semata-mata suatu ajaran tetapi merupakan janji Allah kepada manusia. Janji akan karya keselamatan ini sudah dimulai sejak dulu dengan berbagai cara. “Setelah pada jaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada jaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan AnakNya" (Ibr. 1,1-2a).
Jadi untuk memahami wahyu Allah sangat perlu memperhatikan juga Kitab Suci Perjanjian Lama, tidak hanya Kitab Suci Perjanjian Baru. Seperti yang dinyatakan oleh Konsili Vatikan II, bahwa Perjanjian Baru tersembunyi di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Lama terbuka dalam Perjanjian Baru (DV 16). Sejarah pewahyuan Allah dalam Perjanjian Lama dimulai dengan pewahyuan kepada Abraham (bdk. Kej. 12,1).
Dalam Perjanjian Baru, pewahyuan Allah melalui anakNya, dalam diri Yesus. Yesus tidak sekedar pengantara wahyu tetapi menjadi kepenuhan wahyu tersebut. Yesus tidak hanya menyampaikan firman Allah tetapi Ia adalah firman Allah itu sendiri (bdk. Yoh. 1,1), Ia mewujudkan wahyu itu dalam diriNya, dalam hidup, wafat dan kebangkitanNya. Dengan demikian melalui Yesus pewahyuan Allah mencapai puncak keakraban dan kedekatannya.
Jadi iman merupakan sikap hidup, bukan perumusan.
2. IMAN
Wahyu merupakan pertemuan dan kesatuan antara Allah dan manusia, maka iman adalah tanggapan manusia akan wahyu Allah tersebut yaitu pertemuan dan kesatuan manusia dengan Allah. Manusia dengan bebas (sukarela, tidak karena takut) menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan kepatuhan akal budi (tidak terpaksa) serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan, dan dengan sukarela menerima sebagai kebenaran (bdk. DV 5).
Iman sebagai sikap hidup, bersifat rasional dan harus dapat dipertanggungjawabkan. Iman berakar dalam pengalaman hidup manusia maka ada unsur pengetahuan yang sungguh rasional. Dengan beriman orang tahu lebih mendalam mengenai Allah. Tidak mungkin mengenal seseorang tanpa mengetahui perihal tentang orang itu, demikian juga tidak mungkin beriman atau menyerahkan diri secara total kepada Allah kalau tidak mengetahui siapa Allah itu. Supaya dapat beriman dengan sungguh-sungguh orang harus mengetahui dengan sungguh-sungguh kepada siapa ia menyerahkan dirinya. Sifat rasionalnya tampak dari refleksi atas pengalaman hidup itu (sikap), bukan hanya mengenai teori-teori tentang Allah. Jadi iman merupakan sikap hidup, bukan perumusan, maka rasionalitasnya bukan karena dibuktikan tetapi karena dapat dipertanggungjawabkan.
(H.J.)
sumber gambar
Bible: nairobiwire.com
Wahyu dan Iman, Arti Sebuah Kata
Reviewed by burungberkicau
on
May 25, 2016
Rating:
Reviewed by burungberkicau
on
May 25, 2016
Rating:
Post view:

